Menuju MOJOKERTO BERKARAT
Ya, kami sedang sibuk, bukan sok sibuk. Kami sedang ada garapan bukan malah gabut. Ngomong-ngomong tentang sebuah kesibukan kami saat ini sedang perang batin dan urat syaraf menyiapkan segala keperluan untuk memproklamasikan kemerdekaan, ya kemerdekaan yang benar, kemerdekaan yang bukan sekedar tergurat dalam sejarah yang sebatas di-ingat. Kami bukan menyoal tentang gerakan makar kami yang selama ini kami sebarkan secara diam-diam tapi yang kami maksud adalah kemerdekaan "kedua" sekarang kita tak usahlah malu-malu mengatakan bahwa kemerdekaan pun perlu di-revisi, bukan hanya ulangan, ujian atau bahkan unas. Bagaimana tidak perlu direvisi, tengoklah saat ini seperti apa rupa kemerdekaan kita, saat upacara dan ketika bendera merah putih dikerek ke ujung tiang di tengah terik matahari oleh sekumpulan paskibra, kita masih sempat tertawa-tawa, tak peduli dengan sang paskibra yang bertindak sebagai perwakilan pahlawan. Saat sampai di ujung tiang, kita ikut bergembira tanpa mau tahu sudah sampai berapa korban yang ditimpakan.
Kemerdekaan benar-benar perlu di revisi, tak ada alasan untuk menunda lagi. Teknologi sudah meremas gotong royong dan keguyub-an, westernisasi sudah menelan adat timur. Bisa apa kita selain menikmatinya, dan tanpa pertimbangan apapun kita bersedia senantiasa dijadikan takdir sebagi konsumen abadi. Terhadap ekonomi, terhadap produk-produk rumah tangga, bahkan terhadap celana dalam, kita memakai buatan tangan orang lain. Akhirnya, yang menguasai kemaluan kita bukan kita sendiri melainkan orang lain.
Sudah kita dengar sekitar 70 tahun yang lalu, proklamasi menjadi tanda kemerdekaan. Sebuah gaji dari pekerjaan penumpahan darah, keluarga dan harta yang selama 360 tahun menjadi tumbal dari pekerjaan memperoleh gaji kemerdekaan tersebut. Banyak putra-putri bangsa yang sampai saat ini dengan gemilang mengharumkan nama kemerdekaan tersebut, itu bagus. Tapi banyak juga putra-putri bangsa yang mengharumkan nama bangsa dengan bau bunga Rafflesia Arnoldi. Mengharumkan nama bangsa dengan jalan menjual harga diri kebangsaan, patriotisme dan nasionalisme. Mereka membanggakan produk luar negeri sebagai takaran gengsi, tanpa teknologi luar yang paling canggih berarti mati. Boleh saja memakai produk luar negeri, wong pak Karno ya pakai mobil buatan luar negeri, tapi ya jangan sampai jadikan itu sebagai takaran gengsi, cukuplah jadi diri sendiri, itu lebih dari cukup.
Usia 70 tahun merupakan usia yang cukup panjang untuk terjadi berbagai kejadian yang merubah segalanya. Selama kurun waktu itu, banyak yang sudah membuktikan bahwa kemerdekaan yang menjadi gaji tersebut dipakai dengan benar dan sepatutnya. Namun itu bagi beberapa orang saja, bagi yang berkasta ksatria, mendapat pendidikan, para ulama dan kyai, keturunan para pahlawan besar. Tapi adakah yang mampu memberikan alasan bagi para sudra untuk menangis bahagia dalam perayaan kemerdekaan?
0 komentar:
Posting Komentar