Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2016

TUJUH ANAK PANAH 4-8

Kukira jamban selalu buruk

Kedua anak panah telah berada di tubuh
Ening berdiam di perut
Sedangkan Jati ada di ulu hati


Jamban yang tidak terlalu busuk
Tai disini indah-indah
Warna-warni seperti pelangi
Kalau dijilat terasa seperti
Blueberry

Jamban ini membuai
Kebiasaan seorang manusia
Saat di Jamban ada dua kemungkinan
Pertama...Buang hajat
Kedua...Buang drajat

Buang hajat sangat dianjurkan
Baik bagi kesehatan
Menjauhkan diri dari beragam penyakit mematikan

Beda kasusnya kalau
Buang drajat
Bakal calon manusia berenang diantara selok comberan
Wadah-wadah untuk jiwa itu
Dibuang sia-sia

Hal semacam itu bukan apa
Hanya kalau keseringan
Bisa-bisa mendatangkan
Malapetaka


Jamban ini benar-benar aneh
Tidak ada tanda-tanda akan kemunculan panah ketiga
Kata orang-orang tua
Panah ketiga sangatlah membingungkan

Pikiran lamunan kabur seketika
Sebuah kotoran sejati turun dari awang-awang
Langit-langit jamban memerah kekuning-kuningan
Kemudian dari atas
Jatuh orang-orang yang menjijikkan

Orang-orang yang nampaknya kukenal
Hanya saja aku lupa namanya
Mereka 'telebok', jatuh di permukaan jamban indah
Seketika jamban yang indah ini
Menjadi perbukitan tai

Mereka merusak panorama
Pohon-pohon berganti tai
Udara sejuk tadi kini beraroma tai
Burung-burung yang melintas, mati

Mereka membawa satu panah
Sayangnya panah itu berada di antara dubur
Mencuat keluar
Sedangkan orang-orang jatuh
Bercinta seperti kawanan serigala

Kalijodo baru ada disini
Dolly berenkarnasi
Akibat hotel-hotel yang terlalu berharga tinggi

Bagaimana cara mengambilnya ?

Salah seorang wanita diantara kerumunan mendatangi
Mencekik leher dan sampai badanku terjengkang
Dia naik ke atas kegagahan
Mulutnya berlidah api
Matanya menyembunyikan pelangi
Apa daya....


Setelah pertarungan keras
Keringat kucur deras
Badan seketika lemas
Senampang
Keperjakaanku harus terlepas dari genggaman
Tanpa kesadaran....

Yang penting panah 'Wrang'
Bersarang dimulutku
Orang-orang jatuh mengerumuniku
Menelanku bulat-bulat
Menjauhkanku dari dunia tai


Yogyakarta, Februari 2016

Senin, 15 Februari 2016

TUJUH ANAK PANAH 3-8

Satu anak panah telah kudapat
Kutelan bulat-bulat 
Masuk ke perut kecil
Kurang roti
Kurang jatah makan
Setiap hari dimasuki nasi kucing kecil


Ening berdiam diri di lambung
Asam tiada akan meleburnya
Ia akan anteng
Berdiam diri seperti jabang bayi


Aku telah jatuh ke atas
Semenjak dari sang Gelap
Kini dunia antah berantah terbentang
Di pelupuk mata
Hanya ada gurun
Tanpa matahari ataupun bulan
Cahaya yang ada
Tak tahu darimana arah datangnya


Sunyi
Air yang berdiam
Hangat
Api yang tersentuh kulit


Kaki berjalan sepuluh kali 
Ujung dan pangkal hanya sama
Filosofi macam apa ini?
Himpitan baru yang bernama kesendirian
Siapa musuhku disini?


Seseorang mendekat
Dekat sekali
Hingga nafasku sesak
Oleh keterkejutan ia terdesak
Di hadapanku
Wajah itu milikku
Mata itu milikku
Badan itu punyaku !!


Tunggang langgang 
Larilah ketakutan
Sampai lelah
Sejengkal aku tak mampu berpindah


Di dalam bola mata milikku itu
Terbaring anak panah kedua
"Jati"
Bagaimana cara mengambilnya?
Perlukah kucongkel?
Atau ku potong saja lehernya?
Kemudian ku catut keluar bola mata itu


Hentak suara guntur 
Kilatnya masuk tepat ke kedalaman jiwa
Suara riuh aneh terdengar
Habis sepi, ramai datang kemari
Gundah resah kalut


"Siapa ?!!"
"Akulah kamu, kamulah aku..."
"Omong kosong !"
"Kosong adalah isi, isi adalah kosong..."
"Kalimat basi !!"


Mata itu menundukkanku
Tertekuk di hadapan
Ia melotot dan panah itu
Semakin jelas terlihat
Makian-makian menceramahi wajahku


"Ibumu adalah pelacur !"
"Bapakmu adalah penjual benih kehidupan !"
"Kepintaranmu hanyalah fana !!"
"Kamu akan selalu kehilangan sesuatu yang berarti !!"
"Manusia busuk sepertimu, yang sering mengingkari janji..."
"Bumi ini tak pantas kamu huni !!!"


Mataku tertunduk
Gelai air tangis
Memaksaku untuk berdiri
Menatap dingin, dingin sekali
Aliran darahku secepat lesat
Suara dan cahaya dikalahkan
Gelegar jantung menghentak lantak


Kutatap mata itu
Dingin, dingin sekali


Kubunuh manusia yang bernama
'AKU'
Kucaci habis-habisan
Dan akan kucari
'AKU' yang baru lagi !!


Mata itu remuk redam
Berdarah luruh
Dendamnya habis
Pandangan dingin yang telah menaklukkannya


Dari bola mata coklat itu
Mencuat keluar anak panah 
"Jati"
Kupegang erat dengan tatapan kosong


Ratapan serigala terdengar
Tsunami menghantam
Air bah yang tak tahu asalnya memenuhi diriku
Yang masih tak sadarkan diri
Menghempaskan tubuh serta keberadaanku
Ke Jamban Raksasa



Yogyakarta, Februari 2016

Minggu, 14 Februari 2016

TUJUH ANAK PANAH 2-8

Hujan uang haram
Sensasi selebriti perlihatkan paha dan dada mulus
Kantor pemerintahan di-dekorasi dengan air mani
Sedangkan Langgar
Tak pernah lagi terdengar
Di rimba, siapa yang bayar maka dialah yang didengar
Berondong peluru
Pasukan anti teroris memberontak
Kini mereka jadi teroris
Seorang bocah kecil ikut bawa pistol
Mereka menembaki kebosanan
Ketentraman yang terlalu lama
Hingga manja akhirnya menghanyutkan
Dua anjing penjaga masih lelap
Terasing dalam mimpi abadi
Sedikitpun tak taruh empati
Sang Gelap telah terlewati
Demi tujuh lapis neraka
Kengerian yang kuhadap
Himpitan sangsi di depan
Memaksa untuk muntah
Namun harga laki-laki terletak pada terealisasinya sebuah janji
Seonggok bangkai kerbau raksasa
Darah hitam pekat
Jadi sungai
Diam membangkai di ujung sinai
Anak panah pertama
Bernama, ''Eneng''
Lalat-lalat sebesar bola kasti
Mengelilingi sekitar
Membawa bau biadap kerbau raksasa
Dari dalam perut yang buka nganga
Terlihatlah ''Ening''
Tanganku repot menekan hidung dan mulut
Kaki menghentak-hentak ke tanah
Bagaimana cara mengambil?
Kubuka paksa seluruh indra
Tak kututupi dengan bekap
Muka pucat nasi
Lemas menghirup sesak kebusukan
Langkah goyah
Jijik merekah
Tersungkur jatuh di bantalan empedu
Tinggal satu langkah
Ngesot
Setidaknya untuk kebaikan bukan untuk menjilat pantat
Tangan kananku berhasil meraih
Anak panah pertama berhasil tergenggam
Pada akhirnya aku jatuh ke atas
''Ening:'
Yogyakarta, Februari 2016

TUJUH ANAK PANAH 1-8

Malam tepekur
Kepala kelelawar juntai ke bumi
Matahari bersilang dada di sisi lain
Menghadap gunung dan lembah-lembah
Di Marcapada
Tidak butuh waktu lama untuk mati
Hidup adalah berharga
Dibanding kehormatan semata
Atas dasar itu
Pertikaian menyimpan kado terbaik
Yakni hidup
Pertama kali aku melihatnya
Jalan gelap hitam
Merahasiakan kepedihan dalam
Termangu pada ambang pintu
Anjing-anjing penjaga tidur
Tak terbangun oleh erangan
Perawan cantik yang sedang diperkosa
Tumbuh perkasa sang gelap
Mimpi buruk ditelan semua
Kotorannya, kesepian
Langkahku kaku
Dan terhampar angkuh di depanku
Teramat lelap sang Gelap
Satu langkah ke depan atau belakang
Kalau saja kehormatan bukan soal
Pasti tegas aku pergi dari ambang pintu
Anjing+anjing mendengus basah
Erangan bocah kecil yang kepalanya dicabut dari pangkal leher
Tugas seberat ini mengapa aku?
Banyak yang lebih layak
Dibelakang
Serdadu-serdadu menghamili ibu-ibu hamil
Jendral, Komandan dan Letnan
Tidur pada kasur emas empuk
Bergulingkan pelacur istana
Komersialitas akan kebaikan
Jaminan untuk pendakian
Menuju kesewenang-wenangan
Ideologi serta kebudayaan dibedakan
Pembedanya mengumpama
Air kencing kuda atau air kencing manusia
Kacau, luluh rantak tanah darah
Kyai dan dukun berkoalisi
Ingin membuatku mati bunuh diri
Bai'at tadi sia-sia belaka
Karangan indah tentang Tujuh Anak Panah
Beserta busur kedamaian
Semuanya busuk
Belatung tua yang menimpakan tanggung jawab pada anak muda tak pantas disebut belatung mulia
Hela nafas
Harusnya aku bisa bersikap prokratinasi
Apa daya, bawaan dari lahir antarkan celaka
Bisikan keras memaksa masuk ke telinga
Hawa hidup luruh, runtuh, jatuh
"Panji !!! Bereskan bumi !!!"
Yogyakarta, Februari 2016

Sabtu, 13 Februari 2016

PULANG

Bersenandunglah...bersenandunglah
Lagu kematian menyelinap
Mengeluarkan paksa daya hidup
Dari anak panah, tombak dan keris
Menancap rancap
Mengoyak keberanian

Setelah ini apa lagi
Tidak ada yang peduli
Berapa harga dari sebuah janji
Tiada yang peduli
Bahwa kebanyakan perang terjadi
Sebab janji-janji di ingkari

Aku bagian dari itu semua
Yang kini tunduk lesu
Dengan keris menghujam dada
Setidaknya aku tidak perlu lagi
Ke tempat biadab yang kusebut rumah

Sekian nyawa musuh kutelan
Sedikitpun tiada yang memberi alasan
Bagiku untuk kembali

Manikmaya sialan
Licik, cerdik
Satu-satunya mengapa ia masih terus hidup tidak lain ialah ambisi
Kini untuk berdiri aku tak mampu
Apalagi memenggal kepalanya

Ribuan kilometer dari rumah
Aku akan mengonggok disini
Tanpa ada yang harap kedatanganku

Muak karena istri dan anakku
Meninggalkanku membusuk di medan pertempuran demi laki-laki lain yang duduk di tahta dewan kerajaan

Muak karena sahabat-sahabat yang menusuk dari belakang
Seolah mereka tak pernah diajari menghormati sebuah janji

Muak karena orang-orangnya yang selalu merasa dirinya paling hebat dibandingkan yang lainnya

Aku tidak akan pulang
Keris di dada kucabut
Darah segar mengalir

Lalu bisikan dewa terngiang
'Apa guna hidup kalau berlaku sama seperti orang yang kau benci,?'

Yogyakarta_

Sabtu, 06 Februari 2016

LAGU-LAGU LANGIT LEWAT HUJAN

Perhatikan baik-baik, Nona
Mikail sedang berjoget ria diatas kepala
Kakinya meghentak-hentak di awan
Setiap satu hentaknya
Adalah rintik hujan yang jutaan jumlahnya
Perhatikan baik-baik, Nona
Sambil berjoget Mikail memukuli bayangan matahari
Hingga tiap kali ia memukul
Langit terbelah dan memuntahkan kilat serta guntur
Perhatikan baik-baik, Nona
Kemarilah sejenak
Duduklah tepat dihadapan
Akan kuceritakan kisah
Tentang orang-orang langit
Yang mana setiap hujan turun
Mereka selalu tertawa, berpesta pora sembari dendangkan lagu semesta
Konon, Mikail adalah pembagi rezeki
Hujan, panas, angin, badai
Dan bahkan cinta
Suatu ketika ia mengamati seorang wanita dari alam Marcapada
Sebab saat itu hujan dan badai meliukkan kengerian namun wanita itu tetap berjalan menembus hanya untuk mengantarkan apel pada sang bunda
Mikail terkesima, Tuhan maha tahu bertanya
'Siapa dia?'
'Paduka lebih tahu ketimbang hamba'
'Kamu jatuh hati?'
'Tidak'
'Aku maha tahu'
'Maka jawabannya iya'
Wanita itu menerjang badai
Demi temui sang ibu
Namun sayang, ia tak pernah tahu
Apa itu ibu
Mikail ingin turun dan menghibur
Kala air mata wanita dibalut luka
'Ada apa?'
'Tidak ada, siapa anda?'
'Saya hanya seorang pengelana'
'Maka lebih baik anda tinggalkan saya'
'Kenapa?'
'Karena pengelana tak pernah tinggal lama'
'Lantas? Setidaknya pengelana bisa memberikan hal berarti.'
'Buat apa? Kalau sudah hadir hal berarti, ia pergi dan yang tersisa adalah.....' Sambil terisak wanita itu dan tak mampu lanjutkan perkataannya
'Baiklah kalau begitu, selamat tinggal'
Mikail hilang begitu saja
Wanita menggigil ketakutan
Dari langit
Mikail menurunkan
Hujan mawar merah berbalut darah
Yogyakarta, 07 Februari 2016

Kamis, 04 Februari 2016

LAKI-LAKI UJUNG GANG

Remang jangkau lambai cahaya
Bulan penuh yang tinggal separuh
Diredam mendung jadikan lusuh
Mata nanar tak disangka

Kalbunya ditikam mimpi
Nalar serta ambisi
Peluh
Keringat
Beserta sakit hati

Jiwanya pada tengah keretap hujan bara
Tak pernah lupa dendam selamanya

Laki-laki ujung gang
Kini meringkuk
Nafasnya diburu maut
Sampai kapan merah jadi hijau
Kesadarannya mengalah pada muslihat
Tak sanggup ditangkap
Tangannya meremat aspal
Sambil mengutuk
'Cukup luka ini, hatiku sudah cukup dilukai'

Kamis, 21 Januari 2016

KALAU MAU

Ada tempat di timur perempatan
Jalan yang selalu ramai
Dengan bulir angan berterbangan
Sekaligua nyali terpacu dalam syahdu

Jangan hanya diam
Bertekuk lutut di kolong kamar
Kamu perlu keluar sesekali
Sambut tanganku
Menuntun pun bukan soal

List kopi menanti
Ada dudukan di depan bar
Wastafel dibalik tembok
Tatanan rapi dengan dekorasi coklat

Di pojokan tempat paling cocok
Untuk senda gurau
Sapu nestapa menabuh lara
Duka harus kamu redam
Jangan biarkan terumbar dari bilik mata cahaya itu

Ikutlah aku kalau mau
Tak sudi kutunggu
Mau tak mau
Tetaplah ikut aku

Mojokerto, 21 Januari 2016

Kamis, 31 Desember 2015

PENGELANA

Zirah miliknya koyak
Pengkhianatan dan dusta penyebabnya
Kini ia berjalan gontai
Sepi sunyi membanjiri
Kemanapun pergi, pedangnya sudah bisa dibilang tak mampu melindungi

Apalagi darah makin tumpah
Meresap ke tanah
Berharap bisa menumbuhkan generasi yang lebih gagah

Pengelana terseok
Entah karena usia atau apa
Semangatnya terbakar resah gelisah
Di ujung, cahaya menggeliat
Menyingkap lembah duka

Sang pengelana mengira dirinya mati
Cahaya surga pikirnya
Ia lari sekencang-kencangnya
Melesat lebat tanpa suara
Ketika tiba
Cahaya itu hanyalah seorang wanita
Yang sedang bercinta dengan dirinya sendiri tanpa apapun perantara.

Yogyakarta, 01 Januari 2016

Rabu, 23 Desember 2015

MENANGKAP ANGIN

Menghembus sela demi sela relung
Menggaris imaji vertikal horizontal
Gelagap bangun dari mimpi buruk
Dikipas damai hati sejuk berarti

Sesuai dengan tanda itu
Apa harus kutunggu di puncak fana
Perjalanan melelahkan
Tekad niat dirobohkan
Olok-olok awan pada kerendahan

Apalah arti yang berarti adalah mimpi
Antara pergi dan menguji tiada peduli
Bagaimana harusnya ini ?
Tikaman hati masih membekas
Sampai berdebu tak terdiami

Lalu kearah mana bayang itu pergi ?
Mungkin sang pemilik telah menanti

Lalu pada siapa bayang itu pergi ?
Mungkin dibelai oleh obsesi

Lalu dimana angin akan berhenti ?
Ia tak pernah berhenti, tunggulah maka ia akan kembali.

Mojokerto, 23 Desember 2015

Kamis, 10 Desember 2015

HUJAN SORE HARI

Kalau pelangi dirundu
Untuk bertemu hujan saja tak mau
Tertimpa panas pun tak sedia
Kalau begitu caranya
Bagaimana bisa menemuinya

Keadaan yang pasti berputar
Manusia tak pernah merasainya
Karena berada dalan putaran itu
Namun jika kita bersedia membuka diri
Kitalah yang memutar sendiri keadaan demi keadaan

Mendung memang bukan berartu hujan
Tapi hujan sudah pasti karena mendung

Apabila hujan turun
Jangan lepaskan genggaman ini
Biarkan aku jadi wakil Tuhan
Tuk lindungimu dari kilat dan guntur

Yogyakarta, 10 Desember 2015

Rabu, 09 Desember 2015

DUKA SENJA

Tempat berpijak inilah saksinya
Saksi dari pertemuan itu
Saksi dari tawa dan canda itu
Saksi dari kemurungan itu

Cuma sekali kita disini
Saling malu tuk ungkap rindu
Rinduku bukan padamu
Rindumu tidak untukku
Namun kenapa masih juga sedia ketemu?

Lihatlah ke ujung barat itu
Matahari begitu indah
Menjelang tenggelam, kita selalu berharap bisa bertemu ia kembali
Tentu dengan arah terbit yang sama

Mega-mega terserak di latar langit
Sambutlah jabat tanganku
Sebelum aku hilang untuk beberapa waktu dan kamu hanya bisa memeluk rindu
Rindu yang semoga untukku

Yogyakarta, 10 Desember 2015

Minggu, 29 November 2015

RIWAYAT SEPASANG MERPATI

Sepasang merpati
Duduk di gugusan awan
Tajam dan menyibak awan mereka memandang
Bersama-sama mereka berangkat tadi pagi
Di tuntun oleh matahari

Kelelahan terbayar
Cakrawala hidup terbentang
Biru diselingi awan putih
Setiap mereka memandang ke bawah
Rindang hutan menghalau kejenuhan

Matahari geser ke barat
Mendung hitam datang dengan cepat dari selatan
Merpati jantan memperingatkan
Dia menjadi pembuka jalan bagi merpati betina
Mendung hitam jadi peluru
Tiap tetes air-nya, mampu melobangi awan tebal berwarna putih

Kedua merpati menukik tajam turun ke tanah
Merpati pria melingkupkan sayapnya pada merpati betina
Dera air hujan menghujam tubuh mereka
Kepala merpati jantan mulai pening, pandangannya jadi kabur karena hujan

Hewan-hewan lain menatap takjub
Perjuangan sepasang merpati untuk pulang di tengah deras hujan menggugah kesadaran
Mereka tak ada apa-apanya
Ikatan percintaan mereka tak seperti sepasang merpati yang sedang menikmati kesejatiaan asmara

Merpati jantan tak sanggup lagi
Sayapnya terasa berat sebab melawan angin
Merpati betina berusaha menggantikan posisinya
Namun tenaga tekad merpati jantan tak sanggup ia lawan

Mendung hitam membawa badai
Tombak-tombak air menyamarkan air mata sepasang merpati itu

Mereka berdua lelah
Tenaga mereka terkuras
Mendung hitam seperti dikipas Tuhan
Menghilang perlahan
Matahari yang condong ke barat
Mendesak mendung hitam dengan cahayanya
Kedua merpati sudah tak sadarkan diri
Ketika mereka jatuh
Mereka di kelilingi oleh pelangi

Yogyakarta, 29 November 2015

Rabu, 25 November 2015

KELUARLAH GADISKU

Keluarlah dari dalam rumah
Ada para peri yang sedang menjajaki pelangi
Kemudian matahari muncul diantara mendung hitam
Membawa harap yang lama kau inginkan
Keluarlah dari rumah
Orang-orang sedang menatap langit
Memuja jingga sang surya
Mereka berseru akan kemegahan cinta
Segeralah keluar dari rumah
Biarkan hati nuranimu membimbing langkahmu
Perlahan tapi pasti akan membawamu
Menuju aku yang telah menunggu di depan pintu.
Yogyakarta, 25 November 2015

Selasa, 24 November 2015

MAWAR DARAH KEN AROK

ganlah menjadi pribadi melankolis
Seraya menjadikan diri romantis
Mengajukan kalimat-kalimat yang hanya berdasar pada tangis
Kala hati tengah tergiris
Apalah ini kecemasan dan perhatian
Tiada beda di keduanya
Sama dan selalu sama
Apapun keadaan; baik buruk melanda
Hati yang jatuh mencerca-cerca
Besoleklah wajahmu itu dihadapan binimu atau pacarmu pun idamanmu
Lagu sendu ciri lelaki lemah syahwat
Kurang vitalitas, tanpa daya mengarungi keruwetan hidup
Termasuk asmara didalamnya
Penuh cemonglah wajahmu
Hadapan denganku
Dekil, jarang mandi lantas intens ber-onani
Pertanyakanlah padaku
Pantaskah sebut aku manusia
Peduli diri saja tidak ada
Bermesraan, bercumbu, dan kawin tiap malamlah engkau
Bersama siapapun jua
Aku akan mengintip dari lubang kunci pintu
Sembari dengar jelas rintihanmu
Biar nanti
Biar tiba ku punya waktu
Aku tahu bagaimana harus perlakukanmu
Di atas ranjang itu
Sudah terlanjur kulihat
Turunmu dari kereta kencana
Betis mulus milikmu
Tak sampai sentuh aku tahu
Selembut sutralah itu
Coba kalau rokmu tiada mengangkat
Tiada sampai aku jatuh hati pada betis punyamu
Sekalipun kau punya bini
Diri ini repot peduli
Sebab saban hari
Bertemulah kita di tempat sama
Waktu jua telah tertata
Percaya aku
Lama-lamalah, nanti tumbuh juga kau ada asmara
Tak akan pernah aku menyanyi di depanmu
Menggombal dan mengumbar kepandaian diri
Kau pasti sudah tahu dari tajamnya tatapanku
Mendekati dengan baca puisi
Apalagi puisi cinta khas anak muda
Itu semua hanya omong kosong
Maklumlah, wanita
Kala ada pria rapi penampilan
Tunjukan punya kemampuan
Cepat pasti terjerat
Tidak aku seperti itu
Akan kubuktikan dengan gaya lawas, tempo doeloe
Akan kuminta restu para guru
Ketika pulas binimu
Akan kutikam dengan belati dapur pemberian ibu
Rupanya setuju para guru
Kaupun sukalah pada tindakanku nanti
Malamnya sudah tiba
Belati dapur sudah kumasukkan balik baju
Lalu bunga mawar kubawa
Kutusuk beberapa kali jantung binimu
Hingga darah bercecar di lantai kamar
Sedangkan kau tetap tidur
Sesuai rencana kita
Kau berpura-pura tidur
Ketika kuambil nyawa kau punya bini
Tunai sudah misiku
Kasihan sekali mawar yang kubawa harus bermandikan darah
Tapi tak apa
Pelan kau buka mata
Dan kujejangkan kedua kaki ku
Diantara tubuh telentangmu
Lalu kuletakkan mawar darah disela dadamu
Sekalipun di samping
Mayit dari binimu
Tak jadi apa
Memang barbar cara kita bercinta
Tapi tak masalah
Nanti pagi akan kubuang mayit binimu
Sekarang, mari nikmati malam ini
Di tempat ini
Bermandikan keringat
Hingga nanti pagi surya matahari
menjerat
Yogyakarta,  Juli 2014

Senin, 23 November 2015

PEREMPUAN BATAS MALAM

Kujanjikan pagi padamu
Semburat matahari kan membuaimu
Perlahan menerjang embun yang jatuh dari ujung daun
Tiada yang lebih jernih daripada janji pagiku padamu
Bila pagi tiba
Kan kau lihat wajahku
Yang menurutku tampan
Tapi menurutmu sebuah penampakan
Yang menurutku kecerahan
Tapi menurutmu kegelapan
Apapun asumsimu
Aku menerimanya
Toh, belum kau lihat yang sebenarnya
Masih beberapa jam lagi
Malam belum sampai di penghabisan
Matahari paling terang saat malam ialah matahati
Sebelum itu mari kita saling berjanji
Bila telah tiba pagi yang telah kujadikan janji
Kau harus bersedia memberikan sedikit kecup di dahi, lagi....
Yogyakarta, 24 November 2015

Minggu, 22 November 2015

SILAKAN MELANGKAH, TEMBANGRARASKU

Sudah sore
Lihat itu
Matahati mau pulang
Kemudian datang di belahan lain bumi
Sebelum pulangnya matahari
Aku ada cerita tentang kita tadi
Selama perjalanan kemari
Matamu tertegun pada sungai-sungai
Lalu sajadah hijau bernama sawah
Menghampar jadi sajadah
Saat itu kamu rasa bahwa dunia memang indah
Sedangkan di lehermu tergantung sebuah liontin dengan namaku
Kamu pasang satu hari sebelum membaca sumpah janji abadi bulan kemarin
Rambutmu kabur ikuti angin
Sementara mata batinmu rekah mulai gelisah
Lalu di ujung tebing Drini
Kita memegang tangan
Dengan camar yang pulang
Kita hanya bercengkrama dalam kebisuan
Tanpa hangat sapa serta peluk yang sedari dulu sama kita inginkan
Suara asing pemilikmu menggema, memantul dari jurang di bawah kaki
Tatkala matahari bersandar di horizon
Kau beranjak berdiri
"Cukup sampai sini."
"Mau kemana kau?"
"Kembali"
"Kalau kau kembali, jangan harap akan kuturuti lagi ketika kau minta puisi."
Yogyakarta, 21 November 2015

Kamis, 05 November 2015

NONAKU MARAH

Sudah jatuh tertimpa tai
Susah-susah mendekati
Karena satu hal dia memarahi
Duhiyung, malah jadi ruwet begini

Maunya diberi bunga
Tapi saya tak punya
Kalau dia tanya aku punya apa
Sekedar untuk menghiburnya
Akan kujawab
Aku cuma punya suara serak untu nyanyi lagu cinta

Belakangan ini
Dia malah minta dibuatkan puisi
Berbicara membahas apa saja
Asalkan untuknya
Bukannya kehabisan kata-kata
Ketakutanku itu kalau ternyata manisku sampai di ujung lidah saja

Sudahlah Nonaku
Jangan marah lagi
Mintalah apa saja
Mintalah apa maumu
Silakan sekehendaknu apa maumu
Selagi api hakikatnya panas
Akan kuturuti apapun itu

Nona minta mutiara di palung samudra
Akan kuberi yang lebih baik dari mutiara
Yaitu renyah tawa di tengah sedihmu
Nona minta diantar ke gunung untuk cari udara segar
Akan kuberi yang lebih menyenangkan dari itu
Yaitu kalau Tuhan menyetujui, akan kuantar kamu ke sejuknya AC di gedung resepsi pernikahan kita di Yogya
Nona minta dibelikan boneka besar nan lucu sebagai teman tidur saat malam
Akan aku beri yang lebih hangat dari memeluk boneka
Yaitu kehangatan dari pelukanku

Semua permintaanmu akan kuturuti
Sekalipun berbeda
Tapi yang kuberi memiliki jaminan makna dan kedalaman ketulusan
Mintalah Nona, jangan pakai marah-marah
Mintalah entah apapun atau siapapun
Tapi satu hal
Jangan minta aku menggombal


Yogyakarta, 06 November 2015







WAJAH DI TEPIAN SORE

Lembayung sore ada di kelopak mata itu
Yang berjalan tanpa kesadaran
Sedangkan di bawah langit
Burung-burung pulang
Setelah bertaruh nyawa carikan makan
Demi para keturunan
Lalu reranting daun berdaun kering
Menghujani bumi dihembus angin
Lalu bertafakkur diatas mega merah rambutmu

Kenapa aku cuma duduk menanti
Seseorang yang jalannya saja tidak menghampiri
Sepenggal kenangan tidak cukup guna usir keheningan

Renyah tawa dimana-mana
Kesemuan kutangkap sia
Tanpa raba penuh makna
Jauhnya hitam kepada putih
Cuma mitos dan legenda
Kenyataannya mereka saling satu
Tiada satu tiada yang lain

Kalau boleh kubilang
Kemanapun kau berjalan
Kutunggu sajalah
Atau bisa saja kurebut
Wajah di tepi senja itu

Yogyakarta, 05 November 2015

Setelah

Kamis, 29 Oktober 2015

GADISKU, TEMBANGRARASKU 3

Aku cuma menikmati nasib
Kembalinya air keatas langit bukan sesuatu yang menakjubkan
Hanyalah sebuah siklus yang biasa saja
Bahkan nantinya juga akan turun kembali ke permukaan bumi

Gadisku, Tembangrarasku yang masih belia
Melacurkan cinta
Berkelana tak tentu tuju
Hanya bersilap mata setiap datang kejengkelan
Atau malah marah-marah yang salah arah

Kamu hanya butuh doa
Hanya butuh restu dari semesta
Atas nama alam raya
Semoga kau menjadi air kali kembali