Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 September 2015

KAREPKU

Bah aku mangan watu, karepku
Bah aku mangan kerikil, karepku
Bah aku mangan taek, karepku

Watuku gak cukup watu, tapi watu nang njero kalbu
Kerikilku gak cukup nyandungi sikil, tapi kerikil nang pikiranku
Taekku gak cukup taek, taekku ting mbleber nang raiku

Piro regane nanggap wayang, nek gak ono dalang
Piro regane naggap orkes, neg gak ono kendang
Piro regane naggap ludruk, nek tiket masuke diregani krupuk

Aku gak ngerti kudu nang ndi
Wingi jek tas aku metu teko omah
Lawang blak, tak bukak
Jek oleh sak langkah
Lawang omahku gak koro-koro ketutup
Tak bukak, bukak, tak cukit nggawe wesi, gak mempan

Saiki uripku wis nang njobo, gak ono daya gawe mlebu neh
Garbo wis saklawase ketutup, aku gak isok balek
Tangan iki tanganku, tapi kudu tak apakno
Sikil iki sikilku, tapi kudu nang ndi tak lakokno

Ancen bener, uripku iku yo karepku
Tapi saiki aku nang nggon peteng
Onok srengenge tapi kepadangen
Nggarai aku merem
Akhire tetep, aku nang njero peteng


GM
Yogyakarta, 10 September 2015

Sabtu, 27 Juni 2015

MEMBACA TADARUS PUISI DI MOJOKERTO

 Bertempat di kantor Dispobudpar, tanggal 27 Juni 2015. Diadakan satu kegiatan tahunan, yang pada tahun ini digelar untuk keempat kalinya. Acara tersebut bernama "Tadarus Puisi", dengan membawa kepercayaan bahwa pada bulan Ramadhan orang-orang memang bolehlah pada sibuk beribadah, kalau malam hari tiba maka orang-orang dengan sangat bersemangat membaca Kalamullah atau dalam hal ini dinamakan tadarusan. Entah tadarus di Rumah Allah atau di Rumah sendiri, tak peduli dibaca lewat pengeras suara ataupun secara sirri, yang penting membaca kalam-kalam Illahi. Namun apa jadinya jika yang dibaca (Tadarus) adalah puisi? Sepertinya bukan masalah, seperti yang dikatakan salah satu penonton malam itu, sebut saja nama aslinya yaitu Mas Yahya, mahasiswa jurusan Sendratasik Unesa yang hadir bersama kawan-kawan Batang Bambu House of Art, ia mengatakan "Tidak ada manusia yang tidak beribadah, kalau dia sastrawan, dia punya cara sendiri untuk bereligi, seperti halnya acara ini. Kalau dia petani, ibadahnya ya macul, kalau dia pegiat teater, ya dia beribadah pada prosesnya berteateater"

Apresiasi yang diberikan oleh masyarakat baik yang pelaku, pecinta maupun kalangan manajemen seni terlihat sangat antusias. Seperti kehadiran Batang Bambu House of Art, ProstitusiSuara, Komunitas Arek Japan, DKM (Dewan Kesenian Kota Mojokerto) selain itu hadir juga wakil Bupati Mojokerto, Bu Choirunnisa yang bahkan ikut membaca puisi, pimpinan ludruk Karya Budaya Cak Edi Karya dan kalangan pelajar yang turut memeriahkan acara.

Acara yang digelar Dispobudpar bekerjasama dengan DKKM (Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto) pada tahun ini menawarkan sebuah konsep yang lumayan dari tahin-tahun sebelumnya. Mereka mengajak dan menghimpun guru-guru SMA se-derajat untuk menuliskan puisi yang kemudian dirupakan menjadi sebuah buku dengan beberapa seleksi yang dilakukan oleh Chamim Kohari dan Aming Aminoedhin, alhasil para guru yang memang mencintai puisi namun belum ada wadah untuk puisinya, ramai-ramai datang pada acara tersebut dan ingin tahu bagaimana rupa tulisan mereka diatas buku. Walaupun sebenarnya, diantara para guru tersebut ada beberapa nama yang memang sudah lama melintang di dunia kesenian.

Konsep pembibitan, pemunculan dan penyegaran yang dilakukan DKKM pada ranah sastra memang patut diapresiasi. Meskipun, pada acara Tadarus Puisi tersebut, terlihat sekali senioritas yang dilakukan oleh Lidhie Art Forum, yang hampir tiap jam mereka berada di atas panggung. Mungkin DKKM dan sesepuh kesenian Mojokerto masih ragu untuk 'sekedar' menggandeng orang semacam Ahmad Fatoni, Firman Bentrok dari Batang Bambu House of Art, Faisal Silo dan Hanif dari Komunitas ProSa. Sebuah kebijakan yang mematikan diri sendiri, karena pada akhirnya yang terbarukan dan terimbas penyegaran hanya beberapa kelompok.

Bisa dikatakan panitia Tadarus Puisi seakan meletakkan acara tersebut pada taraf eksekutif yang padahal kalau diraba, masyarakat masih menginginkan harga ekonomi. Penyegaran yang dilakukan tidak akan dirasa dampaknya apabila yang disasar hanya 'kalangan' tertentu, kenepa kita tidak berusaha untuk merakyat?

Pergerakan kesenian Mojokerto pada dasarnya masih mengandalkan kegiatan bersastra yang makin lama itu-itu saja. Tapi beruntungnya, agenda bersastra di Mojokerto begitu ajeg, dan tidak bisa diragukan lagi. Namun bagaimana dengan nasib kesenian lain, yang sampai saat ini masih belum berani berjalan independen dan hanya menengadahkan tangan pada naungan lembaga pemerintah?

Kesimpulannya, acara Tadarus Puisi memang sangat eksekutif, kurang 'nyeleneh' tapi semangat yang dibawa orang-orangnya sangat besar, seolah mereka ingin berkata, "Mojokerto Harus Jadi Kiblat Kesenian Indonesia, Lebih daru Solo, Jogja dan Jakarta, Mojokerto Harus Jaya" Kalau memang menginginkan hal seperti itu, mari bekerja dan berani berkarya !

Senin, 11 Mei 2015

Titisan

Kangmas, apa awakku oleh takon ?
Apa kowe kuwi titisane Janaka ?
Tokoh sing terkenal bagus lan kaleme
Nganti akeh bocah wadon kecanthol
Garwane ra trima siji
Kuwi sing dak wedeni
Kangmas, yen kowe Janaka
Aku dak dadi Srikandine ya ?
Nadyan dudu siji sijining wanita kang kok tresna
Aku tetep dadi wanita sing paling kok perjuangke
Kangmas, aku samar
Apa kowe pancen titisane Janaka ?

Kamis, 26 Maret 2015

SINGKAT SAJA

Meluap luap bahkan langit juga samudra terkalahkan
Kamu tau api apa yang airpun tak mempan ?
Ketika kamu berdebat, menggebu, dan diakhiri dengan senyuman
Tangan menjabat setelah beberapa waktu dia mengepal
Senyum juga tawa mengakhiri egois egois muda
Singkat saja, aku adalah semangat dalam berkarya

OPO IKI ?

Thutuk trampil mlayu mrana mrene
Nggawe ramene suasana wengi
Pentholan diplesetke
Gagang dadi pucukan swarane panting nggrombyang
Suling sunda trompet makasar gong banyumasan
Tumekan gesekan saka Cina
Dinyam karo gamelan, kedombrengan
Wangun
Sukma jiwa dadi bungah
Iki gaya kontemporeran, emosi kagugah
Uga ati iki kangmas, bungah lan kagugah
Sliramu gawe kedombrangan atiku
Sliramu ora mung nyipta musik kontemporer
Nanging atiku katut kekontemporer
Rasa ?! Tresna ?!


Selasa, 24 Maret 2015

Siluet Seni Tradisi

Samar bahkan semakin hilang
Seolah ia dijaga dipeluk
Tapi kenapa semakin pudar
Karena hanya kicauan
Nada nada yang sok merdu
Dibuat seakan merdu
Lalu saat merdu dan merdu
Diantara merdu merdu
Ia kan benar benar lenyap
Andai ada cinta yang benar benar cinta
Cinta cinta cita nyata
Menebalkan menjelaskan
Bergerak tak hanya kicauan
Andai siluet itu semakin
Jelas juga berwarna
Andaikan.....
Ketika ini kau baca
Aku menitipkan harapan kepadamu
Maukah kau berjalan bersamaku, menyatakanya ?



*Sri Suryani