Senin, 16 Maret 2015

ProstitusiSuara (Perjalanan Awal)

Terbentuklah ProstitusiSuara (ProSa), sebuah sanggar kesenian. Saat itu tanggal 28 Januari 2015 di sebuah warung kopi pinggir jalan di depan SMA Negeri 1 Krian, Sidoarjo. Meski kebanyakan anggota berasal dari Mojokerto dan kegiatan aktifnya berada di Warkop Cak Mansur Mojosari. Banyaknya ide-ide, gagasan dan uneg-uneg dari kawan-kawan yang mengkritisi pemerintahan, sistem pendidikan serta kehidupan sosial-budaya masyarakat terlalu sayang jika hanya menjadi obrolan tanpa eksekusi lapangan di warung kopi. Maka sebagai wadah dari ide dan gagasan itu, kawan-kawan sepakat untuk membentuk sebuah wadah. Penamaan dari wadah itupun tak segampang yang dibayangkan. Untuk menentukan nama yang tepat tiap anggota harus menyetorkan sebuah nama sekaligus menjelaskan maksud dari nama tersebut pada anggota lain. Bermacam nama unik namun memiliki maksud yang bagus terucap satu-persatu dari tiap anggota. Namun, pada akhirnya dipilihlah nama ProSa, singkatan dari prostitusi suara. Seperti bentuk LSM awalnya, bergerak melalui dunia maya untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kondisi bangsa pada para pemuda.


Prostitusi Suara sudah terbentuk di Sidoarjo dan Mojokerto. Namun karena pergerakannya yang hanya melibatkan dunia maya serta target dan visi yang terlalu melebar akhirnya salah seorang anggota yang kuliah di Yogyakarta, membentuk Prostitusi Suara yang baru, bergerak di bidang kesenian berbasis pada tumbuhnya kesadaran masyarakat tanpa mengutamakan profit.


Bertepatan dengan Hari Teater Dunia yang diperingati di Solo, 11 April 2015. Maka ia menghimpun kalangan mahasiswa. Dimulai dari kawan sekampus, lalu ia mencoba masuk dan mengajak kawan yang berasal dari kampus lain. Lalu kawan yang satu mengajak kawan yang lainnya dengan tujuan berproses untuk memperingati Hari Teater Dunia. Maka terbentuklah Prostitusi Suara.

0 komentar:

Posting Komentar