Minggu, 11 Oktober 2015

GADISKU TEMBANGRARASKU

Bukankah keberadaanmu adalah hasil dari keberadaanku.
Bukankah bahkan sebaliknya.

Bukankah adanya bumi adalah karena kita.
Benarlah adanya bahwa kita ada sebab bumi.

Kalau saja matahari, bulan dan bumi sejajar.
Diwaktu itulah kita bisa saling jumpa.
Melintasi cahaya gelap akibat matahari yang gerhana

Gadisku, Tembangrarasku.
Kerlingkanlah mata itu kepadaku.
Biar jatuh air mata di kelopak kebahagiaan.

Gadisku, Tembangrarasku
Bersujud menghujam bumi.
Bibir berucap
Hempas menghempas doa ke awang-awang lalu menyobek mendung kelam kerinduan

Wajahmu masih tanda tanya.
Hanya selintas kabar terdengar
Bahwa juntai rambutmu adalah Coban Canggu
Bahwa desir ucapmu adalah kesejukan Dieng
Bahwa pribadimu adalah semegah Laut Jawa

Gadisku, Tembangrarasku
Akan kuminta pada Hyang Manon untuk dapat memimpikanmu
Kalau perlu kujilat telapak Hyang Wenang untuk membuatmu mimpi padaku.

Pada pertemuan mimpi itu.
Kita lintasi lorong delusi
Sedikit de'javu
Adalah sebuah lelantar paling tepat.
Untuk menemu kesepakatan akan kapan dan dimana diadakan pertemuan.

Bila betul terjadi adanya.
Mari kita berkesepakatan untuk bersua di tepi samudra awan yang menari-nari.
Di bawah rindang rimbun pohon pace.
Di suatu tempat bernama Cembor.

Gadisku, Tembangrarasku.


Yogyakarta, 11 Okt 2015

0 komentar:

Posting Komentar