Bertempat di kantor Dispobudpar, tanggal 27 Juni 2015. Diadakan satu kegiatan tahunan, yang pada tahun ini digelar untuk keempat kalinya. Acara tersebut bernama "Tadarus Puisi", dengan membawa kepercayaan bahwa pada bulan Ramadhan orang-orang memang bolehlah pada sibuk beribadah, kalau malam hari tiba maka orang-orang dengan sangat bersemangat membaca Kalamullah atau dalam hal ini dinamakan tadarusan. Entah tadarus di Rumah Allah atau di Rumah sendiri, tak peduli dibaca lewat pengeras suara ataupun secara sirri, yang penting membaca kalam-kalam Illahi. Namun apa jadinya jika yang dibaca (Tadarus) adalah puisi? Sepertinya bukan masalah, seperti yang dikatakan salah satu penonton malam itu, sebut saja nama aslinya yaitu Mas Yahya, mahasiswa jurusan Sendratasik Unesa yang hadir bersama kawan-kawan Batang Bambu House of Art, ia mengatakan "Tidak ada manusia yang tidak beribadah, kalau dia sastrawan, dia punya cara sendiri untuk bereligi, seperti halnya acara ini. Kalau dia petani, ibadahnya ya macul, kalau dia pegiat teater, ya dia beribadah pada prosesnya berteateater"
Apresiasi yang diberikan oleh masyarakat baik yang pelaku, pecinta maupun kalangan manajemen seni terlihat sangat antusias. Seperti kehadiran Batang Bambu House of Art, ProstitusiSuara, Komunitas Arek Japan, DKM (Dewan Kesenian Kota Mojokerto) selain itu hadir juga wakil Bupati Mojokerto, Bu Choirunnisa yang bahkan ikut membaca puisi, pimpinan ludruk Karya Budaya Cak Edi Karya dan kalangan pelajar yang turut memeriahkan acara.
Acara yang digelar Dispobudpar bekerjasama dengan DKKM (Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto) pada tahun ini menawarkan sebuah konsep yang lumayan dari tahin-tahun sebelumnya. Mereka mengajak dan menghimpun guru-guru SMA se-derajat untuk menuliskan puisi yang kemudian dirupakan menjadi sebuah buku dengan beberapa seleksi yang dilakukan oleh Chamim Kohari dan Aming Aminoedhin, alhasil para guru yang memang mencintai puisi namun belum ada wadah untuk puisinya, ramai-ramai datang pada acara tersebut dan ingin tahu bagaimana rupa tulisan mereka diatas buku. Walaupun sebenarnya, diantara para guru tersebut ada beberapa nama yang memang sudah lama melintang di dunia kesenian.
Konsep pembibitan, pemunculan dan penyegaran yang dilakukan DKKM pada ranah sastra memang patut diapresiasi. Meskipun, pada acara Tadarus Puisi tersebut, terlihat sekali senioritas yang dilakukan oleh Lidhie Art Forum, yang hampir tiap jam mereka berada di atas panggung. Mungkin DKKM dan sesepuh kesenian Mojokerto masih ragu untuk 'sekedar' menggandeng orang semacam Ahmad Fatoni, Firman Bentrok dari Batang Bambu House of Art, Faisal Silo dan Hanif dari Komunitas ProSa. Sebuah kebijakan yang mematikan diri sendiri, karena pada akhirnya yang terbarukan dan terimbas penyegaran hanya beberapa kelompok.
Bisa dikatakan panitia Tadarus Puisi seakan meletakkan acara tersebut pada taraf eksekutif yang padahal kalau diraba, masyarakat masih menginginkan harga ekonomi. Penyegaran yang dilakukan tidak akan dirasa dampaknya apabila yang disasar hanya 'kalangan' tertentu, kenepa kita tidak berusaha untuk merakyat?
Pergerakan kesenian Mojokerto pada dasarnya masih mengandalkan kegiatan bersastra yang makin lama itu-itu saja. Tapi beruntungnya, agenda bersastra di Mojokerto begitu ajeg, dan tidak bisa diragukan lagi. Namun bagaimana dengan nasib kesenian lain, yang sampai saat ini masih belum berani berjalan independen dan hanya menengadahkan tangan pada naungan lembaga pemerintah?
Kesimpulannya, acara Tadarus Puisi memang sangat eksekutif, kurang 'nyeleneh' tapi semangat yang dibawa orang-orangnya sangat besar, seolah mereka ingin berkata, "Mojokerto Harus Jadi Kiblat Kesenian Indonesia, Lebih daru Solo, Jogja dan Jakarta, Mojokerto Harus Jaya" Kalau memang menginginkan hal seperti itu, mari bekerja dan berani berkarya !
0 komentar:
Posting Komentar