Palung itu perlahan kumasuki
Gelap, dalam, hitam
Tak semudah tengadah tangan
Jiwaku ngilu
Sukmaku nyeri
Akalku putus
Hatiku, diam
Dasar tak kunjung ketemu
Cukup kubangun dia dengan metafora
Atau kalau belum.memadai
Kuimpikan selamanya
Kalaulah harus ngambang
Tanpa putusan, apa bedanya dengan kehampaan
Palung belum kutemu dasarnya
Aku butuh Dia secara imanen
Menjauh dan tak dapat kurengkuh cuma ujung kosong transenden
Tapi sifatNya yang jauh, membuatku yang harus susah payah dekat padaNya
Selama satu tahun lamanya
Tubuhku terantuk dasar palung
Cahaya palsu jadi isi
Harapan semu disekitar dindingnya
Serombongan sripah antar mayat
Diikuti kawanku yang jatuh lebih dulu
Ku kejar
Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal maula wanimannasir
Mereka hilang di satu sudut payung
Hilangnya pada suatu pertigaan
Pilihanku tegas, kuambil jalan lurus
Pada ujung jalan lurus kulihat...
Segerombol orang
Kukira mengantar kematian
Ternyata sebuah pernikahan
Dari satu arah lain
Datang segerombol pengantar mayit
Pengantar kawinan mengalah
Kawanku terbagi di keduanya
Aku harus pergj, bangun secepatnya
Yogyakarta, 01 Okt 2015
0 komentar:
Posting Komentar