Pada era gegap gempita akan informasi, teknologi, dan komunikasi saat ini, fungsi-fungsi dari Tuhan benar-benar telah hampir sepenuhnya manunggal dalam setiap sendi kehidupan manusia. Manunggal dalam kebutuhan-kebutuhan politik praktis, kapitalis, pembunuhan seseorang demi mengeruk untung dari tambang pasir, liberal yang kebablasan, dan orientasi sex yang berlebihan, ini zaman bukan lagi tentang degradasi moral, melainkan vandalisasi moral. Bagaimana hal semacam itu tidak terjadi, sarana serta prasarana kebutuhan hidup sekarang ini adalah handphone, pulsa dan charger, tidak ada ketiga barang tersebut berarti mati dalam hidup. Lihatlah setiap kali kita kerja, atau belajar atau bahkan berbuat kebaikan yang bahkan karena 'kebetulan', kita sempatkan diri mengumumkannya ke media sosial dan media massa.
Hingga tanpa kita sadari, sebenarnya Tuhan telah berpindah 'singgasana', Dia mungkin sekarang tidak berada di Arsy kalau dalam Islam, atau di Nirwana atau di langit jika berdasarkan religi yang lain, tapi di Tuhan sekarang kita kungkung sela kedua paha, terjepit dan makin hari makin menggoda. Dia tidak lagi sebagai sumber kebutuhan utama, tidak dalam tingkat selera tertinggi manusia. Bisa jadi penyebabnya adalah barometer kita yang kita gunakan saat ini adalah dengan menakar jumlah nominal uang. Mari sama-sama diakui, ditengah perjalanan saat kita berjalan, tak sengaja kita menemukan uang sebesar 100 ribu tepat di seberang jalan orang yang tengah kesakitan karena becak yang ia tunggangi terbalik dan menimpa tubuh tuanya. Maka dengan berterus terang kita akan mengambil uang tersebut barulah membantu tukang becak yang tertimpa becaknya sendiri, itu-pun kalau sempat.
Tuhan sekarang ini diperdebatkan, padahal Tuhan bukan barang perdebatan, kita riuh ramai membicarakan bahwa Tuhan itu bersifat Imanen, di sisi lain kita yang lain merasa bahwa Tuhan itu transenden. Padahal kalau kita pikir baik-baik, kita tak perlu perdebatkan dimana Tuhan itu berada, kalau kita bilang dan percaya bahwa Tuhan ada di dalam jamban, berarti Dia didalam jamban, namun kalau kita bilang Tuhan berada manunggal dengan hati serta pikiran kita, ya disitulah Tuhan. Dimana kita menganggap dimana Tuhan berada berarti disanalah Ia menetap, tergantung apakah kita cinta atau tidak terhadapnya.
Terserah pada kita apakah kita lebih nyaman dengan memakai kata 'itu' ataukah 'ini' untuk Tuhan. Setiap orang memiliki hak privasi atas hal itu, bahkan kalau kita menemui seorang yang kita sudah tahu bahwa dia atheis namun tengah berbuat baik, apakah kita tetap saja mempersalahkannya?! Tentu, mungkin kita akan datangi dia kemudian kita bertanya sambil mencela.
"Buat apa kamu berbuat baik, untuk siapa? Wong kamu tidak ber-Tuhan!"
"Tentu untuk kebaikan, apakah berbuat kebaikan memerlukan Tuhan?"
Habislah kita kalau ditanya seperti itu, bahkan kita jelas hanya bisa mengawang-awang sambil berkata. Tentu, kebaikan memerlukan Tuhan, agar tahu arah dan untuk apa kita berbuat kebaikan. Tapi kalau kita bertanya bahkan melarangnya untuk berbuat baik, punya hak apa kita? Lha wong sawangane kopyahan, memakai jubah putih mulus, kemana-mana membawa tasbih tapi ternyata malah sering dapat uang dari judi bola online, bisa apa kita. Semua yang ada 'di sini' hanya permukaan, hanya wajah, untuk mengetahui benar seluk-beluk seseorang kita perlu bertahun-tahun lamanya. Bahkan untuk men-just suatu zaman, sebenarnya kita tidak berhak, hanya saja kita dapat mengambil pokok sampel yang mayoritas untuk menyebut zaman ini rusak atau tidak. Kalau kita percaya bahwa kata 'ini' lebih nyaman untuk merasa dekat dengan Tuhan ya silakan, kalau kita merasa nyaman dengan kata 'itu' untuk Tuhan ya silakan, bahkan kalau kita tidak memilih ber-Tuhan ya silakan. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang bahkan seorang Nabi, memaksakan sebuah ajaran dan kepercayaannya. Namun intinya, tetaplah kita hendaknya selalu menjaga diri, merawat diri mendasarkan diri pada kebaikan, baik karena iming-iming Tuhan ataukah tidak.
Tuhan dan kebaikan tidak berjalan seiring, sebab Tuhan juga menciptakan keburukan, yang bisa bersanding dengan Tuhan adalah keseimbangan, atau dengan kata lain 'kebaikan yang senantiasa diperjuangkan'. Sayangnya pada saat ini usaha berbuat baik tersebut malah disalah gunakan dengan memilih berbuat buruk, sebab mungkin seseorang tahu bahwa Tuhan itu dekatnya adalah dengan keseimbangan dan berpikiran bahwa masih ada orang baik didunia ini. Sehingga Dia kini berada dibalik rok mini, gagahnya backhoe, iklan-iklan komersil, penyalahgunaan narkoba, dentum dan sirat sumirat cahaya lampu diskotek, minuman keras berlebihan dan ujung kondom.
Sekian banyak kenikmatan, kita lupa bahwa Tuhan lebih nikmat dari dosa terbesar sekalipun.
Yogyakarta, 06 Oktober 2015
0 komentar:
Posting Komentar