Makan itu karena lapar, minum itu karena haus, tidur itu karena ngantuk,berjalan itu karena ada yang mau dituju dan mati itu karena hidup. Dalam sehari tengok jalan raya yang dipenuhi lalu lalang kendaraan, satu atau beberapa orang suruhlah berhenti, lalu tanyakan mau kemana dia, maka pasti mereka punya tujuan kalau ada yang menjawab karena ingin menghabiskan waktu, bukankah itu sudah termasuk tujuan. Kemudian tanyalah darimana, pasti mereka memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Pasti mereka punya arah asal mereka. Dari kejadian di jalan raya bisa diketahui setiap kehendak orang yang berkendara, tidak ada yang kosong akan tujuan dan arah datang. Sebagai sebuah kesimpulan tujuan adalah sebagian kecil dari ambisi atau harapan. Bedanya ambisi adalah 'fardlu' sedangkan harapan adalah 'sunnah'. Setiap orang saat mencapai usia tertentu pada pemikiran tertentu mereka pasti punya ambisi dan oleh orang tua dikenalkan dengan nama cita-cita.
Sebenarnya untuk apa ambisi itu, seberapa penting, dan bukankah ambisi itu manusiawi?
Ambisi adalah sebagai alasan bagi kita untuk mencari isi dalam kehidulan sehari-hari, bagi yang menyadari. Tanpa ambisi berarti tidak ada harapan dan cita-cita. Kalau sudah seperti itu maka kendaraan yang bernama 'hidup' patut di service-kan. Karena sebagai pengendara hidup tidak punya tujuan, kalau diri sendiri tidak punya tujuan, bagaimana caranya agar mampu menjadi sopir yang baik bagi teman, saudara dan bahkan keluarga?
Bukan lagi sebatas hak, melainkan sebuah kewajiban. Ambisi mencegah kita berbuat seperti orang mati, yang tidur terlalu lama yang bahkan tanpa disebabkan apa-apa. Makan terlalu banyak padahal sudah kenyang, minum sepuasnya padahal sudah hilang dahaganya.
Namun selama ini ambisi-lah yang menjadi tersangka utama bagi pembunuhan Salim Kancil oleh pak Lurah, masa keberadaan freeport yang diperpanjang oleh pemerintah, pembunuhan bayi dalam kardus karena dendam, pembantaian ISIS terhadap yang berlainan ajaran. Kalau seperti itu, untuk apa diwajibkan ada ambisi, ambisi memang menjadi alasan untuk hidup tapi hidup bagi kelompok tertentu atau bahkan kepentingan pribadi. Kejahatan dunia juga dikarenakan ambisi, memaksa suatu kepentingan pada orang lain, ketika buntu maka diputuskan untuk dibunuh. Holocaust, juga karena ambisi. Jadi sebagai dasar, ambisi bukan lagi tujuan melainkan jenis kendaraan.
Kalau dibalik lagi, ambisi tak selamanya salah. Toh ada beragam peninggalan megah dari zaman kerajaan yang adanya dikarenakan ambisi agar anak cucu bisa mengetahui siapa nenek moyangnya. Ambisi untuk menyebarkan ajaran cinta damai pada manusia seperti yang dilakukan Isa bin Maryam, Nabi SAW, Sidharta Gautamma dan masih banyak lagi. Disitulah ambisi mereka menjadi jenis kendaraan yang baik bentuknya, lulus uji emisi dan jangka waktu mati mesinnya masih panjang, sehingga layak jalan.
Entah itu baik atau buruk sebuah ambisi, kita hanya mampu menafsirkan secara privat. Benar dan baik ataukan jahat dan buruk ambisi kita selama hidup. Jelasnya, kendaraan hidup cuma tahu satu tujuan 'Sangkan Paraning Dumadi'. Untuk bertemu dengan yang 'Tan Kena Kinaya Ngapa', secara baik-baik atau dengan buruk. Ambisi adalah pecahan dari harap yang dikristalkan, diendapkan tekad serta tuntutannya agar bisa tercapai. Silakan dinilai sendiri.
Yogyakarta, 09 Oktober 2015
0 komentar:
Posting Komentar