Selasa, 10 November 2015

Catatan 1

Ada banyak yang tidak saya mengerti
Kebanyakan tersebut terletak pada lingkaran-lingkaran saya sendiri. Semakin keras usaha saya untuk mengerti sesuatu, selalu sesuatu itu semakin dalam dan dalam. Pada akhirnya saya coba untuk menyadari bahwa ada banyak hal yang perlu dunia ketahui tapi dari beragam hal yang diketahui itu, mereka semata-mata diciptakan oleh sesuatu atau seseorang yang tak pernah ingin diketahui.

Saya mencoba memahami dan mencari jalan keluar paling baik untuk persimpangan yang belakangan mengganggu pendirian saya. Persempingan itu masing-masing menuju ke arah yang sama namun dengan dampak yang berbeda pada tataran waktu serta hasilnya pula. Setiap malam, mata ini keras-keras saya jaga, agar tak terpejam sebelum Fajar tiba. Dengan keyakinan semoga ada sebuah silap ikut serta tangan Tuhan untuk memberi suatu pertimbangan paling baik untuk menentukan jalan pada persimpangan.

Sastra, manusia, dan alam.
Tiga hal yang benar-benar mengganggu belakangan ini. Dalam darah ini deras mengalir sebuah keturunan seorang sastrawan. Namun di darah ini juga mengalir ajaran-ajaran untuk bersikap baik pada manusia dan alam. Setiap saya memilih salah satu diantaranya, pasti ada satu yang terabaikan. Entah kenapa alangkah sulit untuk menemukan titik temu diantara mereka.

Ketika ada sebuah persoalan yang terjadi pada seorang manusia. Semata-mata apa yang bisa menyelamatkannya dari rasa sakit?
Apakah sebuah puisi ataukah obat dari dedaunan berkhasiat?

Lalu tanpa perlu saya tuliskan dengan omong kosong dalih ahli maka akan saya jawab. Sastra adalah obat, begitu juga dengan sebaliknya. Keduanya perlu diberikan. Kalau hanya obat, maka ia hanya akan sembuh dengan tanpa sebuah kesan, pesan dan secuil kebahagiaan setelah berhasil keluar dari pintu penderitaan. Tapi kalau hanya sastra yang diberikan, hasilnya hanyalah omong kosong, sastra tak mampu berbuat apa-apa, sebelum ia diimplementasikan menjadi sebuah wujud perbuatan yang berarti dan terkait dengan isi sastra tersebut.

Fajar Erucokro
Yogyakarta, 11 November 2015

0 komentar:

Posting Komentar